Pages

Kamis, 24 Februari 2011

Panitia New7Wonders Matre Sebabkan Pulau Komodo Terancam Gagal Final 7 Keajaiban Dunia

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan membeberkan polemik di balik ‘ancaman’ Yayasan New7Wonders yang akan mencopot Taman Nasional Komodo sebagai finalis tujuh keajaiban dunia terbaru. “Senin (7 Februari 2011), Pak Menteri akan menyampaikan semuanya,” kata Direktur Konvensi, Insentif, dan Pameran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Nia Niscaya, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com yang dikutip ruanghati.com, Kamis 4 Februari 2011.


Panitia berorientasi bisnis, dan dengan alasan biaya tinggi kemungkinan Pulau Komodo menang jadi tipis
Menurut Nia, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik akan memberikan keterangan resmi tentang polemik Komodo pada Senin petang sekitar pukul 15.00 WIB di lantai 16 Gedung Kementerian. Semua akan dijelaskan di sana. Nia mengakui tahu tentang duduk persoalan polemik Komodo dengan Yayasan New7Wonders itu. Tetapi, dia memilih menunggu Jero Wacik memberikan keterangan resmi terlebih dahulu.

Semalam, Jero Wacik sedikit menjelaskan tentang kisruh Komodo yang menjadi salah satu dari 28 finalis tujuh keajaiban dunia terbaru. Awalnya, Jero tidak melihat ada masalah. Tetapi belakangan, Menteri yang juga politisi Demokrat ini ‘mencium’ aroma tak sedap di balik yayasan yang juga panitia penyelenggara.

Semua berawal dari permintaan panitia agar Indonesia menjadi tuan rumah pengumuman atau deklarasi kemenangan tujuh keajabian dunia terbaru pada tanggal 11 November 2011 atau 11-11-2011. “Wah, tadinya saya sudah menaksir, kalau ini deklarasinya di Indonesia maka satu hal akan kita dapat yakni gaungnya. Tapi persyaratannya yang berat. Kita harus membayar komitmen fee sebesar US$10 juta,” kata Jero Wacik usai rapat kabinet semalam di Kantor Presiden.

Angka itu ternyata hanya diperuntukkan sebagai komitmen pengumuman juara keajaiban dunia terbaru. Menurut Jero, panitia meminta lagi sekitar US$35 juta untuk pelaksanaan acara. “Itu berarti lebih dari Rp450 miliar. Saya hitung-hitung layak atau tidak mengeluarkan Rp450 miliar untuk menjadi tuan rumah yang belum tentu menang. Saya kan bekas pengusaha, saya hitung lagi,” kata Jero. Tapi menurut Jero, angka itu tidak sepadan. “Tidak nunutlah, tidak sampai hati mengeluarkan uang sebesar itu.”

Yang disesalkan ketika panitia mengatakan, “Indonesia kalau tidak mau menjadi tuan rumah nanti bisa kita delete,” kata Jero mengutip panitia. Terang saja hal itu membuat kecewa. Padahal masih ada 27 finalis dari 27 negara yang juga masuk dalam daftar. Kenapa ada kesan pemaksaan?

“Ada Abu Dhabi, China, dan lain-lain. Saya berpikir, kalau Indonesia tidak mau, seharusnya negara lain bisa. Tidak masalah bila berlangsung di negara lain, yang penting kita bisa vote (komodo). Rupanya mereka mengancam saya, mengancam Indonesia,” sesal Jero. Karena merasa terancam, rasa nasionalisme Jero bangkit. Jero lalu mempertanyakan integritas dan kredibilitas yayasan penyelenggara. Meski demikian, menteri asal Bali ini tetap berpikir positif saja. Karena promo tujuh keajaiban dunia ini ternyata sudah menguntungkan Indonesia.
“Sejak New7Wonders itu digembar-gemborkan, sudah ada peningkatan 400 persen. Jadi, untungnya sudah kita dapat,” ungkapnya. Jero meminta semua pihak tidak berkecil hati. Karena Jero mensinyalir, yayasan itu juga memiliki kepentingan bisnis.
Bagaimana kalau Komodo dicopot dari nominasi? “Delete saja. Kami akan tetap berpromosi. Paling juga tiga tahun tidak ada lagi,” yakin Jero.

0 komentar:

Posting Komentar